Thursday, May 8, 2008
Sunday, May 4, 2008
Pondering the future of global energy
Wednesday, April 16, 2008
Salut kepada PT Chevron Pacific
SAYA adalah salah satu mahasiswa Universitas Gadjah Mada Jurusan Teknik Fisika Angkatan 2005 yang beruntung mendapat kesempatan kerja praktik di PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) yang berlokasi di Rumbai, Pekanbaru, Riau, untuk periode 19 Februari- 18 Maret 2008. Awalnya saya hanya coba-coba melamar untuk dapat mengikuti kerja praktik sebagai mata kuliah wajib di PT CPI, salah satu perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia. Saya ingin mendapat pengalaman baru mengingat hampir semua temanteman saya melamar ke perusahaan dalam negeri.
Waktu terus bergulir, mimpi akhirnya menjadi kenyataan setelah dihubungi pihak Chevron bahwa saya diterima kerja praktik di sana.
Perasaan senang bercampur rasa takut dan waswas mengingat nama besar sebuah perusahaan berarti tingkat arogansi karyawan juga besar. Dengan keyakinan dan doa orang-orang terdekat, saya beranikan diri berangkat sesuai dengan waktu yang telah dijadwalkan. Ketika sampai, ketakutan saya ternyata tidak beralasan, terbukti ketika mulai bertemu dengan orang-orang dan lingkungan yang ramah. Perusahaan asing itu justru menyediakan tempat khusus untuk para mahasiswa/i yang akan mengikuti kerja praktik yang bernama practical training centre. Saya terkejut bercampur senang ketika bagian HRD mengumumkan keperluan mahasiswa dari penginapan, makan, transportasi, pencucian pakaian, tiket PP, dan berbagai fasilitas lainnya ditanggung oleh perusahaan. Hal yang ironis justru tidak didapat sejumlah teman-teman saya yang jelas-jelas mendapatkan kesempatan kerja praktik di perusahaan dalam negeri yang seharusnya lebih ‘peduli’ terhadap anak bangsa. Kekaguman saya tidak sampai di sana saja, suasana kerja, disiplin tepat waktu, dan tidak ada satu pun karyawan yang memanfaatkan waktunya untuk keperluan pribadi, seperti baca koran dan ngobrol. Setiap berpapasan dengan siapa saja, selalu disapa terlebih dahulu dengan senyum yang hangat. Sepulang kerja praktik, saya menyempatkan diri bermain bola bersama tanpa terasa ada perbedaan status di antara kami.
Keselamatan kerja menjadi hal yang sangat 'tabu' untuk dilanggar, sampai-sampai perusahaan menyediakan departemen khusus yang menangani keselamatan kerja.
Saya juga diberi suvenir kaus dan buku agenda yang eksklusif beserta uang transpor untuk pulang ke Yogya. Tiada kata yang dapat terucap selain kekaguman atas perhatian perusahaan yang berasal dari negara Amerika yang notabene sering menjadi sasaran demonstrasi mahasiswa. Dalam kapasitas saya sebagai mahasiswa, saya sangat bangga mendapat kesempatan yang sangat jarang ini, tetapi sebagai kapasitas bangsa Indonesia, saya malu, karena yang membantu proses belajar saya adalah bukan perusahaan anak bangsa.
Satu bulan yang diberikan terasa sangat kurang jika mengingat suasana yang begitu hangat dan sulit terlupakan. Saya jadi ingin berlama-lama, tetapi perusahaan ketat membatasi dengan pertimbangan untuk tetap ingin memberi kesempatan yang lebih luas kepada mahasiswa lain untuk menggali ilmu di sana. Ketika berpamitan pulang pada bagian HRD, saya justru merasa kehilangan suasana kerja yang demikian indah.
Saya jadi berpikir, mengapa begitu banyak BUMN dalam negeri yang dibiayai dengan uang rakyat, terkesan kurang ‘peduli’ dan sungguh- sungguh' dalam upaya membantu para mahasiswa untuk memperlancar
kuliah mereka? Toh mereka adalah juga aset masa depan bangsa yang pada gilirannya, mau tak mau memikul tanggung jawab kebesaran negara yang kita cintai. Andaikata diberikan kesempatan sekalipun, fasilitas yang didapat hanya sebatas penginapan. Padahal, perusahaan-perusahaan yang dikunjungi, biasanya berada di tempat yang jauh dan memerlukan biaya transportasi yang besar dan itu luput dari perhatian BUMN yang menerima kerja praktik.
Terima kasihku yang tulus buat PT CPI dan semoga bantuan ini akan sangat berarti dalam upaya membangun bangsa kami di kemudian hari. (MI)
Waktu terus bergulir, mimpi akhirnya menjadi kenyataan setelah dihubungi pihak Chevron bahwa saya diterima kerja praktik di sana.
Perasaan senang bercampur rasa takut dan waswas mengingat nama besar sebuah perusahaan berarti tingkat arogansi karyawan juga besar. Dengan keyakinan dan doa orang-orang terdekat, saya beranikan diri berangkat sesuai dengan waktu yang telah dijadwalkan. Ketika sampai, ketakutan saya ternyata tidak beralasan, terbukti ketika mulai bertemu dengan orang-orang dan lingkungan yang ramah. Perusahaan asing itu justru menyediakan tempat khusus untuk para mahasiswa/i yang akan mengikuti kerja praktik yang bernama practical training centre. Saya terkejut bercampur senang ketika bagian HRD mengumumkan keperluan mahasiswa dari penginapan, makan, transportasi, pencucian pakaian, tiket PP, dan berbagai fasilitas lainnya ditanggung oleh perusahaan. Hal yang ironis justru tidak didapat sejumlah teman-teman saya yang jelas-jelas mendapatkan kesempatan kerja praktik di perusahaan dalam negeri yang seharusnya lebih ‘peduli’ terhadap anak bangsa. Kekaguman saya tidak sampai di sana saja, suasana kerja, disiplin tepat waktu, dan tidak ada satu pun karyawan yang memanfaatkan waktunya untuk keperluan pribadi, seperti baca koran dan ngobrol. Setiap berpapasan dengan siapa saja, selalu disapa terlebih dahulu dengan senyum yang hangat. Sepulang kerja praktik, saya menyempatkan diri bermain bola bersama tanpa terasa ada perbedaan status di antara kami.
Keselamatan kerja menjadi hal yang sangat 'tabu' untuk dilanggar, sampai-sampai perusahaan menyediakan departemen khusus yang menangani keselamatan kerja.
Saya juga diberi suvenir kaus dan buku agenda yang eksklusif beserta uang transpor untuk pulang ke Yogya. Tiada kata yang dapat terucap selain kekaguman atas perhatian perusahaan yang berasal dari negara Amerika yang notabene sering menjadi sasaran demonstrasi mahasiswa. Dalam kapasitas saya sebagai mahasiswa, saya sangat bangga mendapat kesempatan yang sangat jarang ini, tetapi sebagai kapasitas bangsa Indonesia, saya malu, karena yang membantu proses belajar saya adalah bukan perusahaan anak bangsa.
Satu bulan yang diberikan terasa sangat kurang jika mengingat suasana yang begitu hangat dan sulit terlupakan. Saya jadi ingin berlama-lama, tetapi perusahaan ketat membatasi dengan pertimbangan untuk tetap ingin memberi kesempatan yang lebih luas kepada mahasiswa lain untuk menggali ilmu di sana. Ketika berpamitan pulang pada bagian HRD, saya justru merasa kehilangan suasana kerja yang demikian indah.
Saya jadi berpikir, mengapa begitu banyak BUMN dalam negeri yang dibiayai dengan uang rakyat, terkesan kurang ‘peduli’ dan sungguh- sungguh' dalam upaya membantu para mahasiswa untuk memperlancar
kuliah mereka? Toh mereka adalah juga aset masa depan bangsa yang pada gilirannya, mau tak mau memikul tanggung jawab kebesaran negara yang kita cintai. Andaikata diberikan kesempatan sekalipun, fasilitas yang didapat hanya sebatas penginapan. Padahal, perusahaan-perusahaan yang dikunjungi, biasanya berada di tempat yang jauh dan memerlukan biaya transportasi yang besar dan itu luput dari perhatian BUMN yang menerima kerja praktik.
Terima kasihku yang tulus buat PT CPI dan semoga bantuan ini akan sangat berarti dalam upaya membangun bangsa kami di kemudian hari. (MI)
Aresdi Prahara
Mahasiswa Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada
Mahasiswa Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada
Sunday, March 9, 2008
Saturday, February 23, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)











